
RAIH
KESUCIAN DIRI DI HARI YANG FITRI
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
الحمد لله الذى عاد علينا نِعمه فى كل نفس ولمحات وأسبغ علينا ظاهرة وباطنة فى الجلوات والخلوات. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الذى امتن علينا لنشكره بأنواع الذكر والطاعات. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وسائر البريات. اللهم صل وسلم على سيّدنا محمّد وعلى أله وأصحابه أهل الفضل والكمالات
الله أكبر أما بعد: أيها الحاضرون اتّقوا الله حقّ تقاته ولا تمو تنّ إلاّ وانتم مسلمون واشكروا نعمت الله الّتي وصلنا للإيمان ووصلنا إلى العيد الفطر المبارك . فياايها الحاضرون! هذا يوم العيد. هذا يوم الفرح. فرح المسلمون لتوفيق الله إياهم باستكمال بلاء ربهم بفرض الصيام مع الترويحات فرح المسلمون بوعد ربهم بغفران ما اجترحوا من السيئات واستحلال بعضهم من بعض فى الحقوق والواجبات
إخوانى الكرام! فى هذا اليوم حرم الله علينا الصيام بعد أن فرضه علينا جميع الشهر وأخبر أنه فرضه لنكون من المتقين. فمن هذا اليوم ينبغى لنا أن نبعث فى أنفسنا بارتقائها على مراتب التقوى ونهتم بدين ربنا حتى ننال ما وعدنا ربنا حقا
الله أكبر! إخوانى الكرام! إن الله شرع لنا هذا العيد لنعود الى السمع والطاعة. ونعمل بكتابه بالجد والإجتهاد والقوة. ونبتعد عن التقصير والأعمال كما وقع فى أعوامنا الماضية
الله أكبر. وقال تعالى: ومن أظلم ممن ذكر بأيات ربه فأعرض عنها ونسى ما قدمت يداه. إنا جعلنا على قلوبهم أكنة أن يفقهوه وفى أذانهم وقرا وإن تدعهم إلى الهدى فلن يهتدوا إذن أبدا
الله أكبر, إخوانى الكرام! إعلموا أن الله تعالى قد طالبنا فى إقرارنا أن نطيع ونسمع. فقال تعالى ألم ياءن للذين أمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم وكثير منهم فاسقون
الله أكبر. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. بادروا بالأعمال قبل ان تظهر فتنا كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسى كافرا ويمسى مؤمنا ويصبح كافرا. يبيع أحدهم دينه بعرض قليل من الدنيا. رواه مسلم عن أبى هريرة
Ma'asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul
Fitri rahimakumullah,
Adalah sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa
memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT dengan mengucapkan
"Alhamdulillahirabbil Alamin" karena kita telah diberikan berbagai
macam kenikmatan yang tidak bisa kita hitung satu persatu. Mudah-mudahan
kenikmatan yang selalu kita syukuri ini akan senantiasa ditambah oleh Allah SWT
dan kita digolongkan menjadi kaum yang pandai bersyukur. Amin ya Rabbal Alamin.
Dan juga sebagai Ummat Nabi Akhiruz Zaman Nabi Muhammad
SAW, sudah seharusnya kita senantiasa menyampaikan shalawat dan salam
kepadanya. Jangankan kita manusia biasa, Allah dan para Malaikat pun
bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Semogalah kita termasuk kaumnya
yang akan mendapatkan hidayah dan syafaatnya di yaumil akhir nanti. Amin.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ
إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul
Fitri rahimakumullah,
Pada saat ini kita bersama-sama bisa merasakan kebahagiaan
tiada tara. Kita sudah sampai pada hari dimana kita kembali fitri dan kita bisa
menunaikan shalat Id bersama dengan keluarga tercinta ditempat yang mulia ini.
Hari ini adalah hari kemenangan bagi insan beriman yang menjalankan Ibadah
puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh. Hari ini adalah hari dimana orang beriman
yang berpuasa satu bulan penuh dikembalikan kepada fitrahnya, kepada
kesuciannya laksana bayi yang baru terlahir kembali ke dunia.
Hal ini sesuai dengan yang ditegaskan oleh Nabi Kuhammad
SAW dalam Haditnya:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar
keimanan dan dilaksanakan dengan benar, maka ia diampuni dosa-dosanya yang
telah lewat".
Ma’asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul
Fitri rahimakumullah,
Perjuangan di
Bulan Ramadhan adalah sebuah perjuangan keimanan. Iman kita diuji apakah lebih
berat mengikuti ajakan setan untuk tidak berpuasa dengan menahan lapar dan
dahaga ataukah mengikuti perintah Allah SWT untuk mendapatkan predikat
orang-orang yang bertaqwa. Jujur kita saksikan bersama selama bulan Ramadhan,
masih ada disekitar kita orang yang mengaku Islam dengan gampangnya tidak
berpuasa dan terkadang dengan rasa tidak malu menunjukkan diri dengan makan dan
minum ditempat umum.
Seharusnyalah
kita semua menyadari bahwa Ramadhan adalah Bulan yang Suci. Bulan untuk
berupaya meningkatkan keimanan, menambah ibadah kita. Kita harus mampu
mengalahkan rasa lapar. Kita harus mampu menahan rasa haus. Ramadhan adalah
waktu untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah.
Bukan malah kalah dengan godaan Setan yang selalu mengajak kepada kenikmatan
makan dan minum yang sebenarnya itu adalah sebuah dosa yang besar.
Kini bulan Suci
itu telah berlalu. Bulan dimana kita sering mendengarkan lantunan alunan ayat
suci Al Quran di Masjid dan surau dikumandangkan selalu. Semua Ibadah diterima,
doa dikabulkan dan dosa diampuni serta Surga merindukan kedatangan hamba Allah
yang berpuasa dibulan suci Ramadhan.
Hanya di bulan
Ramadhanlah, Allah memberikan kesempatan kepada hambanya untuk beribadah yang
nilainya sama dengan seribu bulan. Allah telah menganugerahkan sebuah malam
yang walaupun hanya satu malam, namun apabila kita bertemu dengannya, berarti
kita sudah beribadah sepanjang dan selama umur kita. Malam itu adalah malam
laolatil qadar.
Namun jamaah shalat id rahimakumullah,
Berlalunya bulan
Ramadhan menyisakan pertanyaan kepada kita semua. Apa yang sudah kita dapatkan
dari Ramadhan? Apakah kita akan diberikan kesempatan lagi oleh Allah SWT untuk
dapat menjumpai Ramadhan tahun depan? Apakah sebaliknya kita tidak akan lagi
dapat merasakan kesucian Bulan Ramadhan tahun depan? Kita akan berpisah dengan
orang yang saat ini ada disamping kita. Kita akan berpisah dengan anak kita,
istri, keluarga dan orang-orang yang kita cintai.
Ya Allah..
anugerahkanlah kepada kami umur yang panjang untuk senantiasa beribadah
kepadaMu. Bukakanlah pintu rahmat dan taubatMu. Kami meminta kepadaMu pintu
taubat belum terkunci dan Engkau akan senantiasa menerima amal ibadah kami.
Sebelum kematian menghampiri kami. Sebelum semuanya menjadi penyesalan
berkepanjangan. Terimalah segala amal ibadah kami di Bulan Ramadhan ini dan
pertemukanlah kami dengan ramadhan-Ramadhan selanjutnya di tahun depan. Amin.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ
إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul
Fitri rahimakumullah,
Pada hari ini, Allah SWT telah memerintahkan kepada kita
untuk senantiasa mengagungkan Nama dan ciptaan Nya dengan lantunan takbir,
tahmid dan tahlil. Setelah kita sempurnakan puasa di Bulan Ramadhan kita juga
diwajibkan mengungkapkan rasa syukur terhadap berjuta nikmat yang telah
dianugerahkan Nya. Sudah selayaknya kita bersujud, bersyukur seraya berharap
semoga kita termasuk orang yang pandai mensyukuri nikmat. Hal ini telah
difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah: 185 yang berbunyi:
وَلِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلىَ مَا
هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kamu semoga kamu
bersyukur (kepada-Nya)."
Dengan takbir yang kita kumandangkan saat ini, kita juga
meneguhkan dalam hati kita bahwa Allah lah Dzat yang paling besar. Ketika
takbir kita kumandangkan saat berpuasa kita juga meneguhkan untuk mengecilkan
pengaruh hawa nafsu dan mengagungkan kebesaran Allah didalam sanubari kita.
Lalu apa sebenarnya tujuan kita selalu takbir dalam kehidupan kita?
Hadirin rahimakumullah,
Takbir mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengecilkan
hal-hal duniawi yang sering kita besar-besarkan dalam kehidupan kita. Dalam
keseharian kehidupan, kita harus mengakui bahwa sering kita takbir dalam shalat
namun diluar shalat kita masih sering mengagungkan kekayaan, kekuasaan dan
jabatan. Diluar shalat kita masih dibanggakan dan diperbudak oleh nafsu dengan
memaksa orang lain untuk menuruti kemauan kita.
Kita sering takbir dalam shalat namun dikehidupan
sehari-hari kita ditengah masyarakat sering melupakan Allah SWT. Mulut kita
bertakbir namun hati kita ditutupi dengan rasa takabbur, bangga dengan
ke-akua-an kita. Kita sering merasa paling penting, paling hebat dan paling
segala-galanya. Kita sering memanfaatkan jabatan, harta dan gelar yang
seharusnya dipergunakan untuk kemaslahatan ummat namun malah kita manfaatkan
untuk kemafsadatan dan kepentingan diri sendiri.
Hadirin rahimakumullah,
Dalam kehidupan kita sering tidak lagi mengaplikasikan
Firman Allah dan Hadits Rasul tentang kejujuran, keikhlasan, kasih saying dan
amal sholeh. Dan sebaliknya, kita malah mengamini dan mengikuti petunjuk
syaitan laknatullah yang mengajarkan kelicikan, kemunafikan dan kekerasan hati.
Kebesaran Allah yang selalu kita besarkan dalam shalat dan do'a, telah kita
lupakan dalam kehidupan nyata.
Kita sering beribadah siang dan malam namun disisi lain
kemaksiatan dan kedzaliman juga terus di lakukan dalam kehidupan. Ibadah sering
kita lakukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban dan agar terlihat oleh orang
lain untuk mendapatkan pujian. Kita menahan lapar dengan tidak mimun dan makan
namun kita berbuka dengan makanan haram yang didapatkan.
Dalam puasa kita kehausan dan menahan lapar serta seluruh
anggota badan kita merasakan keletihan tapi disisi lain kita tetap melakukan
kemaksiatan. Kita khusyuk dalam shalat namun kita juga sering merampas hak
sesama setiap saat. Banyak dari kita fasih dan hafal dengan Hadits dan Al Quran
namun digunakan untuk menyalahkan dan mengkafirkan. Banyak dari kita berpuasa
penuh di bulan Ramadhan namun kita memenuhi dunia ini dengan kemaksiatan dan
kedzoliman.
Ya Allah... Ya Ghaffar... karuniakanlah ampunan Mu kepada
kami atas dosa-dosa dan kealpaan kami. Kami sering tersesat dan diperbudak oleh
nafsu. Oleh karena itu anugerahkanlah kepada kami kekuatan untuk dapat
mengendalikan nafsu dan dapat terus mengagungkan-Mu dalam takbir diseluruh
kehidupan kami.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ
إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Hadirin rahimakumullah,
Sebagai orang yang beriman kita harus meyaqini bahwa hanya
Allah lah yang paling besar dan selain Allah adalah kecil dan lemah. Sadarilah,
semua materi dunia yang menjadi kebanggaan kita semuanya kecil dan tiada
berarti sama sekali jika dibandingkan dengan keagungan Allah. Dalam kehidupan
yang fana ini tidak patut bagi kita mendewa-dewakan kekayaan dan jabatan. Semua
itu akan kita tinggalkan karena semua hanya sebuah titipan belaka yang suatu
saat akan diambil kembali oleh sang pemiliknya yaitu Allah SWT. Tidak perlu
kita menyombongkan dan pamer prestasi dan kekayaan kita karena hakikatnya semua
itu tidak ada manfaatnya jika keimanan dan ketaqwaan tidak ada dalam jiwa kita.
Janganlah kita menyombongkan diri sendiri. Siapapun kita, di
mana pun kita, kapan pun waktunya, Allah telah melarang kita untuk berlaku
sombong sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Luqman ayat 18 yang artinya:
dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ
إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul
Fitri rahimakumullah,
Selain menanggalkan kesombongan diri, marilah kita juga
senantiasa berbuat baik kepada sesama. Terlebih kepada sosok yang paling
berjasa dalam kehidupan kita yaitu orang tua kita. Dalam tuntunan ajaran Agama
Islam kita diperintahkan untuk memuliakan orang tua dengan memperlakukannya
secara baik dalam bentuk perkataan dan juga sikap kita. Orang tua adalah Jimat
kita di dunia. Keridoan orang tua akan menjadi sumber kesuksesan kehidupan kita
didunia.
Sebaliknya kemarahannya adalah merupakan sebuah bencana
dalam kehidupan kita.
رِضَى اللهِ فىِ رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ
"Keridhaan Allah tergantung kepada keridloan orang tua
dan kemarahan Allah tergantung kemarahan orang tua"
Hadirin rahimakumullah.
Adalah sebuah kebahagiaan bagi kita yang orang tuanya masih
dalam keadaan sehat dan masih bersama kita. Terlebih sosok ibu yang telah susah
payah melahirkan kita kedunia ini. Ibu adalah sosok yang paling berjasa dan
dapat menghantarkan kita ke surga. Apa kabar Ia hari ini? Sudahkah kita
menjenguknya? Semakin hari semakin bertambah tua umurnya. Hari-harinya sudah
mulai ditinggal pergi anak-anaknya. Dirumah sendiri tak berdaya dengan kondisi
kesehatan yang semakin membuatnya tak berdaya. Keinginan bekerja masih ada
namun tenaga sudah tidak mendukung keinginannya. Akhirnya hanya bisa mengubur
semua isi hatinya sambil berharap ada anak yang memperhatikan dan peduli
dengannya. Apakah kita peduli dengan hal ini? Apakah kita merasakan apa yang
mereka inginkan dan rasakan selama ini?
Hadirin rahimakumullah,
Inilah saat penting bagi kita untuk berbuat baik kepada
orang tua kita. Inilah ladang amal bagi kita selaku anak yang berbakti kepada
orang tua. Jika kita dengan ikhlas peduli, memberi kasih sayang dan membantu
meringankan beban hidupnya yakinlah... surga balasannya. Jasa dan perjuangan
mereka tidak akan bisa kita balas dan bayar lunas. Demi Allah... sebanyak
apapun yang pernah kita berikan, apa pun yang pernah kita serahkan kepada orang
tua kita, tidak akan setimpal dengan perjuangan dan pengorbanan mereka
membesarkan kita.
Mari kita ingat perjuangan mereka ketika kita masih kecil
tak bisa berbuat apa-apa. Dengan penuh cinta mereka menggendong kita, mencium
kita dan merawat kita sampai kita bisa seperti sekarang ini. Bagaimana
sebaliknya ketika saat ini mereka tergeletak sakit sendirian dirumahnya?
Sempatkah kita menengoknya? Berapa kali kita mengusap keningnya, menyuapinya
dan menggantikan pakaiannya ketika ia terbaring sakit diatas tempat tidurnya? Seringkah
kita memeluknya dengan penuh cinta sembari tersenyum sebagaimana ia lakukan
saat kita kecil dipangkuannya?
Oleh karena itu Hadirin rahimakumullah,
Di hari nan fitri inilah waktu yang tepat bagi kita untuk
meraih kedua tangannya yang sudah nampak keriput dimakan usia. Rengkuhlah
tubuhnya, Ciumlah tangan yang dulu kekar mengasuh kita namun sekarang
sudah lemah seraya bersimpuh meminta maaf kepadanya. Mintalah keridhoan dan
keikhlasannya untuk bekal hidup kita. Dan marilah berdoa agar Ia selalu mendapatkan
perlindungan dan kesehatan serta kemudahan dari Allah SWT. Semoga mereka tetap
terjaga Iman Islamnya dan ketika Ia dipanggil oleh Allah SWT mereka menjadi
hamba yang khusnul khatimah dan kita diberikan ketabahan dalam menghadapinya.
Namun hadirin rahimakumullah, jika mereka saat ini
sudah tidak bersama kita lagi di dunia. Marilah kita luangkan waktu untuk
berziarah ke makam mereka. Lihat dan bersihkanlah pusara mereka yang menunggu
doa dari kita dan keluarga. Ia pastinya akan tersenyum melihat kehadiran dan
doa yang kita kirimkan. Sebaliknya mereka pasti akan sangat bersedih ketika
kita tidak datang mendoakan karena hanya itulah yang mereka harapkan dialam
sana
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ
إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul
Fitri rahimakumullah,
Selain menunjukkan pengabdian dan bakti kita kepada orang
tua kita, marilah pada momen Idul Fitri ini kita tebar aura positif kepada
orang yang ada disekitar kita. Binalah persahabatan kepada semua dengan penuh
kasih sayang. Perkuatlah kedekatan batin dengan sesama agar tercipta suasana
yang penuh kedamaian dan penuh cinta serta kasih sayang.
Hal ini dapat diwujudkan dengan saling mengulurkan tangan seraya
mengucapkan permohonan maaf kepada sesama. Bukakan pintu maaf kepada sesama
agar kesempurnaan ibadah kita dibulan Ramadhan dan idul fitri ini akan semakin
sempurna. Semogalah semua dosa kita kepada Allah dan dosa kepada sesama akan
diampuni sehingga kita akan menjadi insan yang kembali suci mendapatkan
kemenangan seperti harapan dalam doa kita "Jaalanalahu Minal Aidin wal
Faizin".
Ma’asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul
Fitri rahimakumullah,
Demikianlah Khutbah Idul Fitri ini. Semoga dapat memberikan
kemanfaatan bagi kita semua dan marilah kita berdo'a semoga ibadah kita selama
ini khususnya di Bulan Ramadhan tahun ini diterima Allah SWT. Dengan datangnya
1 Syawwal ini pula kita berharap mudah-mudahan kita akan menjadi insan yang
bertaqwa.
ISTIQAAH SELEPAS RAMADHAN
اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu
akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga dirahmati oleh
Allah,
Hari ini kita berada dalam hari besar, hari perayaan, hari
di mana kita kembali berbuka puasa, yaitu hari Idul Fithri. Suatu nikmat yang
besar, kita dapat menjalankan ibadah shiyam, ibadah puasa sebulan penuh. Kali
ini kita berada pada awal Syawal 1437 H.
Ingatlah …Sebagaimana para ulama di masa silam seringkali
berkata.“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka
melahirkan mereka.”
Karena memang bulan Ramadhan itu penuh dengan ampunan.
Sehingga sampai ulama seperti Qatadah rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang
tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit
diampuni.”
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Tatkala
semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak
mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang
banyak.”
Kita terus berdoa pada Allah, moga amalan kita di bulan
Ramadhan diterima di sisi Allah. Moga amalan kita yang penuh kekurangan tetap
mendapatkan balasan terbaik di sisi-Nya. Moga Allah juga mengampuni kesalahan
dan setiap kelalaian kita selama beramal di bulan Ramadhan.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ
أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar
walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan pada junjungan kita,
suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabatnya dan pengikutnya hingga
akhir zaman.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar.
Allahu akbar walillahil hamd.
Seorang mukmin sudah sepatutnya terus meminta pada Allah
keistiqamahan. Itulah yang kita pinta dalam shalat minimal 17 kali dalam sehari
lewat doa,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.” (QS.
Al-Fatihah: 6)
Ini pertanda kita
butuh untuk terus istiqamah. Artinya, terus berada dalam jalur yang benar,
tetap dalam ibadah pada Allah walau sudah mengakhiri Ramadhan.
Apa
keistimewaannya? Disebutkan dalam kitab Hilyah Al-Auliya’ beberapa perkataan
ulama berikut.
Ibnul Mubarak
menceritakan dari Bakkar bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa ia mendengar Wahb bin
Munabbih berkata, ada seorang ahli lewat di hadapan ahli ibadah yang lain. Ia
pun berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Dijawablah, “Aku begitu takjub pada si
fulan, ia sungguh-sungguh rajin ibadah sampai-sampai ia meninggalkan dunianya.”
Wahb bin Munabbih segera berkata, “Tidak perlu takjub pada orang yang
meninggalkan dunia seperti itu. Sungguh aku lebih takjub pada orang yang bisa
istiqamah.” (Hilyah Al-Auliya’, 4: 51)
Orang yang bisa
istiqamah, ajek terus dalam ibadah, itu lebih baik daripada orang yang
memperbanyak ibadah.
Ingatlah …Bisa
terus istiqamah, itulah karamah seorang wali Allah (kekasih Allah) yang begitu
luar biasa,
وَأَنَّ الْكَرَامَةَ لُزُومُ الِاسْتِقَامَةِ
“Sesungguhnya karamah (seorang wali Allah, pen.) adalah
bisa terus istiqamah.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10: 29)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ
أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar
walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.
Lalu bagaimana biar bisa terus istiqamah? Ada beberapa kiat
yang secara singkat kami terangkan berikut ini.
Pertama: Selalu berdoa pada Allah karena istiqamah itu
hidayah dari-Nya
Kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa
saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai
Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Adapun doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong
kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah
kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha
Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)
Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ
الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Rasulullah
kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit
qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah
hatiku di atas agama-Mu)’. ”
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ
وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ
وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu
berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah
akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun
bisa menyesatkannya.”
Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits
ini) membacakan ayat,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong
kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8)
(HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini
hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Kedua: Berusaha menjaga keikhlasan dalam ibadah
Amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah itulah yang
diperintahkan sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ
الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ
الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan
lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى
الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى
تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak
butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku
dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima
amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985)
Adapun buah dari keikhlasan akan membuat amalan itu
langgeng, alias istiqamah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وَمَا لاَ يَكُوْنُ لَهُ لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ
“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah,
pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”
(Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2: 188).
Para ulama juga memiliki istilah lain,
مَا كَانَ للهِ يَبْقَى
“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti
akan langgeng.”
Ketiga: Rutin beramal walau sedikit
Amal yang dilakukan ajek (kontinu) walaupun sedikit itu
lebih dicintai Allah dibandingkan amalan yang langsung banyak namun tak ajek.
Maksudnya, seseorang dituntun untuk konsekuen dalam
menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena
konsekuen dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang hanya
sesekali dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ’Aisyah
–radhiyallahu ’anha-; beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا
وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling
dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”
(HR. Bukhari, no. 6465; Muslim, no. 783). Aisyah pun ketika melakukan suatu
amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu
akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Keempat: Rajin koreksi diri (muhasabah)
Kalau kita rajin mengoreksi diri, diri kita akan selalu
berusaha untuk baik. Allah Ta’ala memerintahkan kita supaya rajin bermuhasabah
(introspeksi diri),
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al-Hasyr: 18)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Hisablah (koreksilah)
diri kalian sebelum kalian itu dihisab. Siapkanlah amalan shalih kalian sebelum
berjumpa dengan hari kiamat di mana harus berhadapan dengan Allah.” (Tafsir
Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 235)
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Pandanglah amal yang
telah kalian lakukan. Apakah amalan shalih yang berujung selamat? Ataukah
amalan jelek yang berujung celaka?” (Zaad Al-Masiir, 8: 224)
Kelima: Memilih teman yang shalih
Teman bergaul amat penting, itulah yang memudahkan kita
untuk istiqamah. Allah Ta’ala berfirman,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ
بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang
menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ
كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ
الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ
بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan
orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi.
Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi)
darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai
besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal
engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)
Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan
bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular
pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut
zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman
dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94)
Teman yang shalih punya pengaruh untuk menguatkan iman dan
terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga
semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab,
الصَّاحِبُ سَاحِبٌ
“Yang namanya sahabat
bisa menarik (mempengaruhi).”
Ahli hikmah juga
menuturkan,
يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ
“Seseorang itu
bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.”
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu
akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Jama’ah shalat Idul Fithri yang semoga senantiasa
mendapatkan berkah dari Allah,
Demikian khutbah pertama ini.
AKHLAK MULIA ADALAH MUARA SEMUA IBADAH
Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, Puji syukur kita
panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat nikmat dan kurnianya kita dapat
berkumpul dan berhimpun di Masjid al-Jihad ini guna menunaikan shalat Idul
Fitri 1439 H. Shalawat teriring salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi
Muhammad SAW yang telah menuntun dan menunjukkan kita jalan hidup lurus serta
akhlak yang mulia.
Jamaah Masjid al-Jihad yang dimuliakan Allah,
Pada hari ini, kita sama-sama berbahagia karena telah usai
menunaikan sebulan penuh puasa. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan
kali ini diterima Allah SWT dan membekas ke dalam jiwa dan sanubari kita. Namun
bagimanakah caranya agar ibadah tersebut membekas dan memberi dampak takwa
sebagaimana dicanangkan Quran? Agar la’allakum tattaqun?
Perlu khatib tekankan di sini, pada hakikatnya semua
kewajiban ibadah dalam Islam adalah sebuah ikhtiar untuk membantu kita mencapai
derajat takwa—keinginan untuk hidup secara mulia di bawah kontrol dan
pengawasan melekat Allah SWT.
Pada kesempatan ini, izinkah khatib untuk bertanya: adakah
bentuk puasa yang justru tidak berbuah takwa dan sia-sia?
Ada, saudara-saudara! Kenapa? Karena dalam sebuah hadis
dikemukakan bahwa Allah tidak akan segan-segan mengabaikan puasa seseorang
bilamana ibadah tersebut justru tidak berdampak pada akhlak dan kepribadiannya.
Marilah kita renungkan hadis riwayat Abu Hurairah berikut. Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang tidak mengucapkan selamat tinggal kepada
ungkapan dusta (qaula al-zur)—atau yang pada zaman now bisa pula bermakna hoax,
kabar palsu atau dusta—dan terus saja dia melakukannya, maka Allah tidak akan
segan-segan untuk mengabaikan urusan makan-minum si pelakunya!”
عَنْ أبي هريرة رضي الله عنه أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم
قال: مَن لم يَدَعْ قول الزُّور والعملَ به والجهلَ، فليس للهِ حاجةٌ أن يَدَعَ
طعامه وشرابه – رواه البخاري
Demikianlah saudara-saudara, hakikat ibadah; muaranya
adalah pembentukan pribadi yang baik dan akhlak yang mulia. Bukan semata-mata
berlapar-lapar dan berhaus-dahaga tanpa makna. Karena itu, Imam al-Ghazali
dalam kitab Ihya Ulumiddin mengatakan bahwa hakikat puasa bukan sekadar imsak
alias menahan atau mengontrol diri, tapi juga taqlil atau mempersedikit dan
mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk sehari-hari. Misalnya mengurangi tingkat
konsumsi makan minum yang menjadi sumber penyakit. Juga mengurangi nafsu
angkara murka yang masih bersemayam di dada kita.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!
Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, tidak hanya puasa.
Kewajiban shalat pun pada hakikatnya hendak bermuara pada akhlak mulia. Shalat
sebagaimana sudah banyak kita tahu, hendak mencegah kita dari perbuatan keji
dan munkar. Itulah yang diungkapkan surat al-Ankabut ayat 45.
Seorang ulama Mesir bernama Muhammad al-Ghazali bahkan
mengatakan, menjauhkan perbuatan yang keji dan membersihkan tutur kata dan
tindak tanduk kita dari kemunkaran adalah hakikat daripada shalat! Bahkan
saudara-saudara, dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah memaklumkan:
“Sesungguhnya Aku (hanya) menerima shalat mereka yang
merendahkan hati demi meninggikan keagungan-Ku. Aku menerima shalat mereka yang
tidak bersombong dan membagakkan diri kepada makhluk-Ku. Aku menerima shalat
orang yang tidak berketerusan melakukan maksiat pada-Ku. Aku menerima shalat
mereka yang mengisi hari-harinya dengan mengingat-Ku, juga menyayangi fakir
miskin, ibnu sabil, para janda atau armalah. Juga menerima mereka yang
merahmati orang-orang yang tertimpa musibah. Itulah shalat yang bercahaya
selaiknya mentari. Itulah shalat yang naik dan tumbuh ke hadirat kebesaran-Ku. Shalat
seperti itulah yang dijaga malaikat-Ku. Shalat yang akan mengubah kegelapan
menjadi cahaya. Shalat yang mengubah kealpaan menjadi kelembutan. Perumpamaan
shalat begini adalah bagai firdaus di antara surga-surga Allah.”
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
قَالَ اللَّهُ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى: إِنَّمَا أَتَقَبَّلُ الصَّلاةَ مِمَّنْ
تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِي، وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَلَى خَلْقِي، وَلَمْ يَبِتْ
مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي، وَقَطَعَ نَهَارَهُ فِي ذِكْرِي وَرَحِمَ الْمِسْكِينَ
وَابْنَ السَّبِيلِ وَالأَرْمَلَةَ، وَرَحِمَ الْمُصَابَ، ذَلِكَ نُورُهُ كَنُورِ
الشَّمْسِ، أَكْلَؤُهُ بِعِزَّتِي، وَأَسْتَحْفِظُهُ مَلائِكَتِي، أَجْعَلُ لَهُ
فِي الظُّلْمَةِ نُورًا، وَفِي الْجَهَالَةِ حِلْمًا، وَمَثَلُهُ فِي خَلْقِي
كَمَثَلِ الْفِرْدَوْسِ فِي الْجَنَّةِ.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!
Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, hakikat zakat pun
bermuara pada pensucian diri dan pembentukan perilaku mulia. Kita tahu, dalam
at-Taubah 103 Allah berfirman: “Tariklah dari sebagian harta mereka barang
sedekah yang akan membersihkan dan mensucikan diri mereka!”
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ
وَتُزَكِّيهِم بِهَا
Bagaimana pula rupa zakat dan atau sedekah yang dapat
membersihkan hati dan mensucikan jiwa bagi seorang muslim? Untuk mengetahuinya,
kita dapat melihat beberapa penjabaran hadis Nabi yang memperluas makna
sedekah. Misalnya, dalam al-Bukhari, Nabi bersabda bahwa senyum yang tersimpul
di muka saudaramu adalah sedekah (tabassumuka fi wajhi akhika shadaqah!).
Mengajak berbuat baik dan meninggalkan kelakuan buruk
adalah sedekah (wa amrukum al-maruf wa nahyukum anil munkar shadaqah!).
Menunjukkan rute untuk orang yang tersesat jalan adalah sedekah! (wa irsyadukum
al-rajula fi ardi al-dhalal shadaqah!). Menyingkirkan duri dan penghalang
jalanan juga terhitung sedekah! Banyak lagi hadis-hadis yang senada dengan ini!
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!
Jamaah shalat id yang dimuliakan Allah. Apalagi? Haji! Di
saat berhaji, kita tidak dibenarkan melakukan tindakan mesum (rafats) serta
perilaku tercela (fusuq) seperti menyakiti orang lain, mendurhakai orangtua,
memutus silaturrahmi, bergunjing dan bergosip-ria, ataupun tindakan tercela
lainnya (al-Baqarah 197).
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ
الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ- البقرة 197
Jadi apa inti
dari semua kewajiban ibadah yang kita lakukan siang dan malam itu
saudara-saudara? Tiada lain dan tiada bukan adalah untuk membentuk perilaku
terpuji atau akhlak yang mulia. Kembalinya kepada kita juga! Ini sejalan belaka
dengan sabda Nabi Muhammad SAW tentang alasan dirinya diutus bagi umat manusia:
“Sesungguhnya,
aku diutus tiada lain untuk menyempurnakan budi pekerti.”
Nah, sebagian
umat manusia memang sudah mencapai derajat peradaban tinggi dan akhlak yang
mulia ketika Nabi diutus. Namun beliau tetap diutus agar sempurna budi pekerti
kita manusia. Supaya lebih mulia dan lebih paripurna!
Allahu akbar,
Allahu akbar, Allahu akbar!
Karena itu,
jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, orang yang sudah pol sekalipun
ibadahnya, namun tetap berperangai buruk; mencaci-maki ke sana ke mari,
mengumpat si ani atau si anu, senantiasa membuat huru-hara dan angkara murka,
maka kelak dia akan menghadap Allah dalam kerugian yang nyata. Dalam surat
Thaha ayat 74-76 Allah menegaskan:
“Sesungguhnya,
barangsiapa yang menghadap Tuhannya sebagai terpidana (berlumuran dosa), maka
dia akan dicampakkan ke dalam jahanam neraka. Tidak mati tidak pula hidup di
dalamnya. Namun barangsiapa yang mendatangi Tuhannya dalam keadaan mukmin, dan,
dan, banyak pula mengerjakan kebajikan, baginya derajat yang utama, VVIP. Yaitu
surga eden yang mengalir di bawahnya sungai. Kekal mereka di sana, dan itulah
imbalan bagi mereka yang mensucikan diri dengan akhlak yang mulia (tazakka).”
إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ
جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلا يَحْيَا (-) وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ
عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلا (-) جَنَّاتُ
عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ
مَنْ تَزَكَّى (-)
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!
Karena itulah, saudara-saudara, jangan pernah sekali-kali
meremehkan akhlak dalam tata cara kita beragama. Sekalipun kita telah
mengerjakan amal ibadah bertumpuk-tumpuk, bila kita masih menyimpai perangai
buruk, maka masih ada kemungkinan kondisi itu akan membuat kita bangkrut dan
tetap terpuruk.
Banyak sekali hadis saudara-saudara, yang menekankan
pentingnya akhlak mulia ini. Misalnya hadis Abu Hurairah tatkala Rasulullah
bersabda,
“Demi Allah, tiada beriman! Demi Allah, tiada beriman! Demi
Allah tiada beriman!” kata Rasulullah. “Siapa gerangan yang dikau maksud, wahai
Rasulullah?” tanya sahabat. “Orang yang membuat tetangganya tidak aman dari
kelakuannya!”
حديث أبي هريرة -رضي الله تعالى عنه- أن النبي -صلى الله عليه
وسلم- قال: والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، قيل: من يا رسول الله؟
قال: الذي لا يأمن جاره بوائقه
Banyak lagi hadis-hadis yang senada ini. Dalam hadis Muslim
misalnya, orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat,
seyogyanya berkata baik atau lebih baik diam saja (falyaqul khairan aw
liyashmut!). Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat
hendaknya menghormati tamunya (falyukrim dhaifahu!). Orang yang benar-benar
beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah menghormati tetangganya
(falyukrim jarahu!).
رُويَ عن الإمام و مُسلِم – رحمة الله عليهم أجمعين – عن طريق
أبي هريرة- رضي الله تعالى عنه، قال: روى عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه
قال: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت، ومن كان يؤمن بالله
واليوم الآخر فليكرم ضيفه، ومن كان بالله واليوم الآخر فليكرم جاره
Bahkan saudara-saudara jamaah Masjid al-Jihad yang
dimuliakan Allah, hadis Abu Hurairah juga menyebutkan bahwa orang yang rajin
shalat, berpuasa dan bersedekah, namun tetap menyakiti tetangganya, dia akan
tetap terancam dicampakkan ke dalam neraka. “Hiya fin naar!” kata Rasulullah.
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رجل: يا رسول الله إن
فلانة تذكر من كثرة صلاتها وصيامها وصدقتها، غير أنها تؤذي جيرانها بلسانها. قال:
هي في النار.
Sebaliknya, dan
ini yang cukup mengejutkan, orang yang minimal saja puasanya, sedikit saja
sedekahnya, yang wajib-wajib saja shalatnya, bersedekah pun hanya secuil keju
(al-aqt), namun dia tidak menyakiti siapa-siapa, untuknya Rasulullah bersabda:
“Dia di surga!”
قال: يا رسول الله! فإن فلانة تذكر قلة صيامها وصدقتها
وصلاتها وإنها تصدق بالأثوار من الأقط ولا تؤذي بلسانها جيرانها قال: هي في الجنة.
رواه أحمد والبيهقي في شعب الإيمان
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar!
Jamaah shalat Id yang dimuliakan Allah, kalau saya sebutkan
keseluruhan hadis tentang pentingnya perilaku baik dan akhlak yang mulia, maka
khutbah ini akan sangat panjang dan lebar. Cukuplah sebagai penutup saya
cuplikkan kesaksian sahabat Nabi tentang seperti apa akhlak Rasulullah itu.
Misalnya apa yang diungkapkan Anas bin Malik yang telah berkhidmat selama
sembilan atau sepuluh tahun kepada Rasulullah.
“Demi Allah, kata Anas, dia tidak sekali pun berkata `cuih`
(uffin) ataupun mencela sesuatu! ”
عن أنس بن مالك قال: خدمت رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر
سنين، والله ما قال لي أفا قط، ولا قال لشيء لم فعلت كذا، وهلا فعلت كذا. وفي
رواية: ولا عاب علي شيئا. وفي رواية: تسع سنين. وفي رواية : كان رسول الله أحسن
الناس خلقا.
Bahkan, kepada
Aisyah istrinya, Rasulullah pernah bersabda:
“Wahai Aisyah,
sesungguhnya Allah maha lembut dan meyukai kelembutan. Dia akan memberi pada
kelembutan apa yang tidak dia beri kepada kekerasan! (hadis riwayat Muslim).
عن عائشة رضى الله عنها، أن رسول الله صلى الله عليه و سلم
قال: يا عائشة، إن الله رفيق يحب الرفق، و يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف، و
ما لا يعطي على ما سواه
Karena itu jamaah
Masjid al-Jihad yang dimuliakan Allah, tepat sekali ketika dalam surat al-Ahzab
ayat 21 Allah menganjurkan kita untuk berteladan kepada akhlak mulia
Rasulullah.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ
0 Comments:
Posting Komentar